Di usia kemerdekaan republik Indonesia yang ke-80 ini Prodi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah Univesitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri meningkatkan keikutsertaan akademisi dalam membersamai problematika masyarakat umumnya dan problematia keluarga khususnya. Sampah rumah tangga tidak kalah masivenya dengan limbah industri, keduanya akan semakin menjadi masalah yang kompleks jika berada pada tempat yang sama, wilayah industri menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat dan meningkatkan peluang lapangan kerja yang merata bagi masyarakat, akan tetapi secara ekologis kondisi kepadatan penduduk di sekitar kawasan industri tentu akan mengancam ekosistem hayati khususnya higienitas air, polusi udara, punahnya vegetasi penopang mata air dan tentu juga konflik sosial. Letak geografis Desa Kemiri Sewu Kecamatan Pandaan berada pada posisi strategis, sebab merupakan kawasan segitiga emas karena terletak pada poros distribusi ekonomi di beberapa kawasan, yaitu jalur Bangil – PrigenSukorejo – Gempol. Selain antar kawasan level Kecamatan, Kecamatan Pandaan merupakan daerah yang sangat strategis karena merupakan lalu lintas utama dari Surabaya ke wilayah Malang. Hal tersebut menguntungkan dalam target pengembangan ekonomi dan membuka peluang investasi yang sangat besar. Akan tetapi kondisi wilayah industri seperti ini tentu mengalami kendala lingkungan khususnya problematika limbah pabrik dan sampah. Homogenitas masyarakat dalam beradaptasi dengan banyaknya industri seperti ini menjadikan mereka terpanggil untuk belajar menyelesaikan masalah tersebut dari perpektif hal yang mendasar dari dalam diri mereka yaitu agama. Untuk itu mereka menginginkan pendekatan yang berasal dari dogma agama yang tentu dengan semangat kebhinekaan tidak hanya dari Islam saja. Menurut Ghufron salah satu penggerak pemuda desa tersebut selain limbah pabrik yang menjadi dampak meningkatnya masalah sampah adalah kebiasaan masyarakat membuang sampah di sungai, hal inilah yang menjadi kegelisahan dan sekaligus inisiatif komunitas Griya Rahmatan Lil Alamin mengusung tema kepedulian lingkungan dalam rangkaian memperingati hari kemerdekaan Indonesia ke-80 pada tahun ini. Fathurrahman sebagai bumiputra yang sukses mengembangkan bisnis di bidang furniture dan kaligrafi adalah seorang yang berjiwa sososial tinggi sekaligus pemantik semangat solidaritas bersama peduli problematika desanya, dialah inspirator dari Griya Rahmatan Lil Alamin yang merupakan ruang perjumpaan, pembelajaran, dan jejaring yang lahir dari semangat kebersamaan, kesetaraan, dan keberagaman. Berbasis di desa Kemiri Sewu Pandaan komunitas ini menjadi tempat bagi siapa saja—terutama pemuda, lintas iman, dan masyarakat luasuntuk bertumbuh bersama dalam suasana inklusif, saling menghargai,dan merdeka berpikir. Selain fokus pada isu sosial, GRA juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup. Bagi GRA, merawat bumi adalah bagian dari merawat kemanusiaan. Oleh karena itu, nilai cinta dan kasih kami wujudkan dalam aksi nyata menjaga kelestarian alam, mengedukasi masyarakat tentang kesadaran ekologi, dan membangun perilaku hidup selaras dengan lingkungan. Tradisi yang selalu ada di setiap perayaan Hari Kemerdekaan di berbagai pelosok Indonesia adalah Malam Tirakatan. Momen yang biasanya digelar pada malam tanggal 16 Agustus ini bukanlah sekadar ajang kumpul warga, melainkan sebuah ruang sakral untuk perenungan, rasa syukur, dan pengharapan. Di Kemiri Sewu Pandaan tahun ini bahkan tidak hanya sakral akan tetapi juga membangun komitmen komunal untuk meningkatan wawasan literal warga. Kemasan agenda tirakatn kali ini lebih unik, pasalnya mereka tidak hanya berdoa bersama akan tetapi juga belajar bersama dalam menanggulangi problematika sampah di lingkungannyan. Para narasumber yang diundang adalah dari berbagai kalangan baik akademis, aktivis lingkungan, budayawan dan juga tokoh agama lintas iman. Dr. Abbas Sofwan dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri adalah perwakilan dari akademisi yang konsen di bidang Etika Lingkungan menyampaikan tentang landasan filosofis historis pengelolaan aliran sungai dan sumberdaya air dari perspektif Fikih Ekologi. Selain dimensi hydro-conservation dalam lintas sejarah kehidupan Era-Rasullullah, Abbas juga menyampaikan tentang bahwa ibadah yang sesunguhnya tidak berhenti pada hal yang bersifat ritus agama, akan tetapi niat tulus dan tindakan nyata mengelola sampah demi kenyamanan bersama kehidpuan masyarakat adalah ibadah yang berkah dan maslahah.Selain perpektif agama, tokoh pemerhati budaya dari Pandaan yaitu Budi Mulyono juga memaparkan tentang filosofi wayang yang diartikan dengan wayahe sebahyang (waktunya melaksanakan ibadah kepada Tuhan: baca Jawa). Anugerah air yang dikaruniakan sang Pencipta kepada seluruh makhluk di alam ini merupakan tanda-tanda kebesaran Tuhan yang harus senantiasa dikelola dengan baik untuk memberikan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi generasi yang akan datang. Ibu Susi dari penganut Bahai wilayah Malang yang menjadi narasumber pada acara malam tirakatan tersebut memberikan apresiasi yang istimewa kepada masyarakat Kemiri Sewu yang secara gotong-royong memiliki kebersamaan yang harmonis dalam mengemas gerakan sosial dalam penanggulangan sampah, menurutnya semangat kebersamaan adalah kunci, modal sekaligus langkah yang baik sebagai titik keberangkatan menemukkan solusi bersama mengembalikan fungsi alam dan melestarikannya. Mbak Sumiati dari WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) wilayah Surabaya menyambut baik ide dan komitmen para pemuda desa untuk proyek pengadaan Tempat Pengelolaan sampah Akhir di tahun 2026, sehingga dari Agustus 2025 hingga akhir tahun ini paling tidak hendaknya ada gerakan pemilahan sampah yang dilakukan para Ibu Rumah Tangga dan dibantu oleh para bapak-bapak, agar terbangun kebiasaan, karena dengan terbiasa semua akan bisa terselasaikan.Acara Tirakatan yang mengusuang tema, Merdeka Berfikir, Merdeka Belajar “Kita Jaga Alam maka Alam Jaga Kita” di Desa Kemiri Sewu Kecamatan Pandaan tersebut semakin hangat pada sesi pertanyaan dari audience yang didominasi oleh kaum hawa, dari tiga pertanyaan yang muncul semunya menyampaikan keluhan tentang penanggulangan sampah yang berupa pembalut popok bayi, karena tipe sampah rumah tangga ini yang sering menimbulkan dilema antara sakralisasi dari dogma leluhur tentang akibat dari pembakaran sampah pempers dan kepentingan umum untuk dilakukan pembakaran. Para narasumber memberikan feedback dari beragam perspektif, dari Islam landasan prinsip qaidah fiqih tentang pencegahan bahaya hendaknya mengklasifikasi dari bahaya yang lebih besar harus diprioritaskan dalam penyelesainnya, sedangkan dalam perpektif ilmu pengetahun bahan materi pempers adalah polyster yang berfungsi mengikat air, sehingga bahan ini flamable atau mudah terbakar, maka pemusnahannya harus dibakar dengn mempertimbangkan lokasi yang aman tentunya. Malam Tirakatan tersebut ditutup dengan doa bersama lintas agama yang membuat acara terasa semakin teduh dan damai dengan seksama masyarakat desa yang hadir sekitar 200 orang tersebut secara khidmat dan tidak beranjak dari lokasi di lapangan desa tersebut hingga acara ditutup dengan pembagian hadiah kuis berupa hiasan dinding kaligrafi yang bertuliskan ayat-ayat Allah. Masyarakat desa Kemiri Sewu secara antusias menginginkan keberlanjutan agenda tersebut dengan forum-forum dan gerakan-gerakan kerjabakti rutin yang dilakukan dalam enam bulan kedepan kemudian dilakukan evaluasi program agar menemukan formula yang solutif dalam penanggulangan sampah di sungai khususnya.
Kontributor: Dr. Abbas Sofwan Matlail Fajar, S.H.I, LL.M, Dosen Tetap Prodi Hukum Keluarga Islam